Indikator Hati yang Selamat (Ust. Dr. Muh. Nur Ihsan)


7 tahun lalu oleh Radio Suara Al-Iman / 0 komentar

Hati merupakan sumber kebaikan seorang insan baik untuk dunia maupun akhiratnya sebagaimana hadis Nabi shallallahu'alaihi wa sallam

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةًإِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

Ketahuilah bahwa di dalam tubuh terdapat segumpal daging jika dia baik maka seluruh tubuh, dan dia jelek maka akan jelek pula seluruh tubuhnya. Segumpal daging itu adalah hati. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari hadis tersebut kita dapat mengetahui betapa pentingnya hati bagi sebuah tubuh, sehingga menjadi permasalahan penting bagi kita untuk mengetahui keadaan hati kita apakah hati kita itu dalam keadaan baik sehingga menjadikan seluruh tubuh dapat berbuat kebaikan ataukah hati kita dalam keadaan sakit sehingga menjadikan seluruh perbuatan tubuh kita hanya menyebabkan kerusakan baik bagi kita maupun orang lain?

Untuk mengetahui keadaan hati kita terdapat indikator-indikator yang dapat digunakan untuk mendiagnosa hati kita apakah dia dalam keadaan baik atau dalam keadaan sakit bahkan sudah mati?

Diantara indikator yang menunjukkan baiknya hati adalah sebagai berikut.

1. Hati yang sehat atau baik adalah hati yang selamat dari kecenderungan mencintai apa yang dibenci oleh Allah Azza wa Jalla, baik berupa kebencian, permusuhan, maupun kedengkian baik secara lahiriah maupun batiniyah.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ: قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ:صلى الله عليه وسلم أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: " كُلُّ مَخْمُومِ الْقَلْبِ صَدُوقِ اللِّسَانِ "، قَالُوا: صَدُوقُ اللِّسَانِ نَعْرِفُهُ، فَمَا مَخْمُومُ الْقَلْبِ، قَالَ: " هُوَ التَّقِيُّ النَّقِيُّ، لَا إِثْمَ فِيهِ، وَلَا بَغْيَ، وَلَا غِلَّ، وَلَا حَسَدَ

Dari sahabat Abdullah bin Amr radhiyallahu’anhu dia berkata, suatu ketika ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, “Siapakah manusia yang paling mulia?” beliau menjawab, “Setiap Makhmumul Qalbi dan orang yang lisannya jujur,” para sahabat berkata, “Orang yang jujur lisannya kami telah mengerti, namun siapakah Makhmumul Qalbi itu wahai Rasulullah?” beliau menjawab, “Dia adalah seorang yang yang memiliki  hati yang bertakwa yang hatinya suci dari dendam, permusuhan, dan kedengkian. (HR Ibnu Majah)

Jika hati kita adalah hati yang disifati oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam yaitu hati yang yang bertakwa dan suci dari dendam, permusuhan dan kedengkian maka hati kita adalah hati yang selamat atau dalam keadaan baik. Namun jika tidak, maka sebaiknya kita segera mengobati hati kita tersebut.

2. Indikator yang kedua hati yang selamat adalah hati yang tidak terpaut dengan dunia.

hatinya senantiasa berkonsentrasi untuk akhirat. Dunia ini ia gunakan sebagai sarana mencapai tujuan akhir yaitu akhirat. Ia ibarat seorang yang sedang menempuh perjalanan yang jauh kemudian dia beristirahat di bawah sebuah pohon, namun ia tidak terlena dengannya karena di sana masih ada tujuan yang lebih baik yaitu negeri akhirat.

 عَنْ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِبَعْضِ جَسَدِي، فَقَالَ: " يَا عَبْدَ اللَّهِ، كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ، أَوْ كَأَنَّكَ عَابِرُ سَبِيلٍ، وَعُدَّ نَفْسَكَ مِنْ أَهْلِ الْقُبُورِ

Dari sahabat Abdullah ibnu Umar radhiyallahu’anhu berkata, “Dahulu Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah menarik sebagian tubuhku (dalam riwayat lain, mengambil kedua pundakku), kemudian beliau berkata, “Jadilah engkau di dunia ini seperti orang yang asing, atau seorang yang tengah menempuh perjalanan yang jauh, dan persiapkanlah dirimu untuk menghadapi kematian.” (HR Tirmidzi)

Demikianlah gambaran yang tepat yang harus dilakukan oleh seorang mukmin di dunia yang fana ini, yaitu ia gunakan dunia ini sebagai jembatan untuk mencapai tujuan akhirnya. Kehidupan di dunia yang fana ini sangat singkat namun penuh liku-liku dan penuh problematika, banyak hal yang akan membuat orang terpesona dan terkesima dengan kegerlapan dunia dan kemewahannya, sehingga jika seorang mukmin menjadikan dunia ini sebagai tujuan hidupnya tentu ia akan lalai dan lupa terhadap kehidupan akhiratnya, namun jika ia menggunakannya sebagai jembatan untuk mencapai tujuan akhirat dia tidak akan terlena karena ia sadar bahwa di sana masih ada perjalanan yang panjang dan lebih baik dari kehidupan dunia, itulah akhirat.

 Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu'anhu berkata

 " ارتحلت الدنيا مدبرة، وارتحلت الآخرة مقبلة، ولكل واحدة منهما بنون، فكونوا من أبناء الآخرة، ولا تكونوا من أبناء الدنيا، فإن اليوم عمل ولا حساب، وغدا حساب ولا عمل

Dunia telah pergi meninggalkan seorang yang terlena dengannya, dan akhirat akan datang mendatangi kita (orang-orang yang telah didatangi oleh kematian dunia telah meninggalkan mereka) , dan keduanya memiliki pengikut maka jadilah engkau menjadi pengikut akhirat dan janganlah engkau menjadi pengikut (budak) dunia. Sesungguhnya hari ini adalah hari untuk beramal dan belum ditegakkan perhitungan namun besuk adalah hari akan ditegakkan perhitungan dan tidak ada amal shalih lagi yang dapat dilakukan.

3. Indikator  hati yang selamat adalah hati yang selalu terpaut kepada Allah.

Hati yang senantiasa kembali kepada Allah kembali dan terpaut kepada Allah dan selalu mencitai-Nya. Karena tidak ada arti kehidupan hati kecuali dengan menjadikan Allah sebagai zat yang dicintai dan menggantungkan urusannya kepada-Nya. Hati tidak akan merasakan ketenangan, jiwa tidak akan tentram, batin akan gelisah apabila hati kosong dari kecintaan kepada Allah subhana wa ta’ala. Orang yang seperti itulah, orang yang akan mendapatkan kehidupan yang baik di dunia maupun akhirat. Karena hatinya selalu terpaut kepada Allah subhana wa ta’ala. Sehingga ia hanya akan bertawakal kepada Allah, senantiasa mencari ridho Allah, hanya takut kepada Allah dan hatinya tenang hanya dengan berdzikir kepada Allah.

 Temukan indikator-indikator untuk mendiagnosa apakah hati kita dalam keadaan baik ataukah sakit pada kajian berikut.

Pada kajian kali ini Ust. DR. Muhammad Nur Ihsan  حفظه الله menjelaskan kepada kita apa saja indikator-indikator hati yang selamat, kajian ini disampaikan di Radio Suara Al-Iman Surabaya.

Radio Suara Al-Iman Surabayaradio dakwah dan syiar IslamAhlus Sunnah wal Jama'ah, mengudara pada frekuensi radio AM 846 kHz yang dapat dijangkau oleh radio di Jawa Timur dan Madura (sebagian besar Jatim, pada khususnya), hingga beberapa kota di Jawa Tengah (Rembang, Blora, dll). Radio Suara Al-Iman Surabaya juga dapat dinikmati melalui radio streaming dan Flexi radio. Gabung juga di Facebook dan Twitter Radio Suara Al-Iman, untuk berlangganan info kajian di Jawa Timur.