Kepemimpinan Laki-Laki Terhadap Wanita


3 tahun lalu oleh Radio Suara Al-Iman / 0 komentar

Setiap rumah harus ada pemimpin yang mengatur urusan rumah tangga, mengurusi, menjaga, mengayomi seluruh anggota keluarga yang ada di dalam rumah. Dan pemimpin sepatutnya untuk didengar dan dita’ati selama tidak memerintahkan untuk bermaksiat kepada Allah Ta’ala. Pemimpin dalam rumah tangga adalah suami. Dan yang menjadikan seorang suami sebagai pemimpin rumah tangga adalah Allah Ta’ala. Sebagaimana firman-Nya:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.“ [QS. An-nisa’:34]

Dijadikannya suami pemimpin atas istrinya - sebagaimana ayat di atas - adalah karena dua sebab:

1. Allah telah memberikan kelebihan bagi laki-laki dibandingkan dengan perempuan. Yaitu kelebihan sejak pada penciptaanya; berupa kekuatan, kecerdasan, keuletan dan kesabaran. Serta dengan apa yang dikhususkan oleh Alloh kepada kaum laki-laki, seperti:
▶ Diutusnya para Nabi dari kaum laki-laki
▶ Kepemimpinan suatu negara
▶ Persaksian seorang laki-laki sebanding dengan 2 orang perempuan
▶ Dalam warisan, anak laki-laki mendapatkan dua kali bagian perempuan
▶ Laki-laki boleh menikahi 4 istri, sedangkan istri hanya boleh menikah dengan 1 orang suami
▶ Allah menjadikan pernikahan, rujuk dan cerai ada di kekuasaan laki-laki
▶ Seorang anak dinasabkan kepada ayahnya
▶ Jihad diwajibkan bagi kaum laki-laki

2. Allah menjadikan kepemimpinan pada suami disebabkan karena nafkah yang diberikan suami kepada istri. Seorang suami memiliki kewajiban untuk menafkahi istri sejak terjadinya aqad nikah. Suami juga wajib untuk memberikan mahar, makanan, pakaian, tempat tinggal serta kebutuhan lainnya. Bahkan ketika istri sudah dicerai dan masih dalam masa iddah, seorang suami tetap berkewajiban untuk memberikan nafkah.

Dan untuk menguatkan besarnya hak seorang suami atas istrinya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ، لأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا.

“Seandainya aku berhak memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada manusia, sungguh aku akan memerintahkan seorang istri untuk bersujud kepada suaminya”. [HR. At-Tirmidzi 1159, dishahihkan oleh Syekh Al-Albani].

Diringkas dari pembahasan pertama kitab فقه التعامل بين الزوجين [Fikih pergaulan suami istri] karya Syekh Musthafa Al-Adawy حفظه الله .

Oleh : Ustadz Andy Fahmi Halim, Lc.

*) Dengarkan pembahasan lengkapnya di Radio Suara Al-Iman 846 am setiap hari Rabu pukul 05.00 WIB.