Menikah Dengan Izin Wali Mempelai Wanita


3 tahun lalu oleh Radio Suara Al-Iman / 0 komentar

Yang dimaksud dengan wali seorang wanita adalah orang yang berhak melangsungkan akad nikah atas seorang wanita dan tidak membiarkan wanita melangsungkan akad nikah untuk dirinya sendiri (lisanul arab). 

Wali bagi seorang wanita adalah orang-orang yang berhak menikahkannya, dan mereka kerabat pria dari jalan ayah, bukan dari jalan ibu, seperti ayah, kakek (ayahnya ayah), saudara kandung ayah/paman, saudara kandung, anak kandung, cucu.

Jumhur/mayoritas ulama baik terdahulu hingga kini berpendapat bahwa wali adalah syarat sahnya nikah, dan jika seorang wanita menikahkan dirinya sendiri, maka nikahnya batil. Di antara para ulama dari sahabat dan setelahnya yang mengambil pendapat ini adalah : Umar, Ali, Ibn Mas’ud, Abu Hurairah, ‘Aisyah, Malik, asy-Syafi’iy, Ahmad, Ishaq, Abu ‘Ubaid, ats-Tsaury, dll.

Hal ini berdasarkan sangat banyak dalil, di antaranya :

1. Firman Allah : 

وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ

32. dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian di antara kalian…. [an-Nuur (24) : 32]

Dalam ayat tsb terdapat perintah dalam bentuk khusus bagi kaum pria untuk menikahkan, jika seandainya wanita boleh meikahkan dirinya sendiri, maka pasti perintah ini tidak akan dalam bentuk khusus untuk pria. Begitu pula dengan ayat lainnya berikut ini

2. Bandingkan firman berikut :

وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ

Yang artinya :  dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik… 

Dengan lanjutannya, masih di ayat yang sama :

وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ

…dan janganlah kamu menikahkan (wanita-wanita mukmin dengan) orang-orang musyrik… [QS. al-Baqarah (2) : 221]

Ketika larangannya untuk lelaki mengunakan “menikahi” sedangkan untuk wanita “menikahkan”. Hal ini menunjukkan bahwa wanita tidak bisa menikahkan diri sendiri.

3. Firman Allah :

فَانْكِحُوهُنَّ بِإِذْنِ أَهْلِهِنَّ

… karena itu kawinilah mereka dengan seizin wali mereka …. [QS. an-Nisa (4) : 25]

Dalam ayat tsb disyaratkan untuk menikah harus dengan izin dari wali budak wanita yaitu pemiliknya, maka menunjukkan bahwa wanita tidak boleh menikahkan dirinya sendiri.

Dan masih banyak lagi ayat dalam al-Qur’an, adapun dari hadits maka lebih jelas lagi, di antaranya :

4. Hadits :

"لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ", (ت) 1101 [قال الألباني]: صحيح

Tidak ada nikah kecuali dengan wali. [HR. at-Turmudzy dan yang lainnya]

5. Hadits :

"أَيُّمَا امْرَأَةٍ لَمْ يُنْكِحْهَا الْوَلِيُّ، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ" , (جة) 1879 [قال الألباني]: صحيح

Wanita mana saja yang tidak dinikahkan oleh walinya, maka nikahnya batil, nikahnya batil, nikahnya batil. [HR. Ibnu Majah dan yang lainnya]

6. Dari Abu Hurairah, dia berkata :

10494 - عَنْ هِشَامِ بْنِ حَسَّانَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: «لَا تُنْكِحِ الْمَرْأَةُ نَفْسَهَا، فَإِنَّ الزَّانِيَةَ تُنْكِحُ نَفْسَهَا»

Janganlah seorang wanita menikahkan dirinya sendiri, karena pezinalah yang menikahkan dirinya sendiri. [HR. Abdurrozzaq dalam mushonnafnya]

Dalil-dalil tersebut jelas menunjukkan bahwa wali adalah syarat sahnya nikah, dan hal ini berlaku umum baik bagi gadis ataupun janda, hanya dibedakan apabila janda maka sblm dinikahkan dia harus diminta keputusannya yaitu dengan mengucapkan mau menikah atau tidak dengan ucapan yg tegas, adapun gadis maka dengan diamnya maka cukup menjadi bukti keridhoannya, dan wali tidak boleh memaksanya. Hal ini berdasarkan hadits :

«لاَ تُنْكَحُ الأَيِّمُ حَتَّى تُسْتَأْمَرَ، وَلاَ تُنْكَحُ البِكْرُ حَتَّى تُسْتَأْذَنَ» قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَكَيْفَ إِذْنُهَا؟ قَالَ: «أَنْ تَسْكُتَ» , (خ) 5136

Janganlah seorang janda dinikahkan hingga diminta keputusannya, dan jangan seorang gadis dinikahkan hingga diminta izinnya. Para sahabat bertanya : wahai Rasulullah, bagaimana bentuk izin seorang gadis? Beliau bersabda : dengan dia diam. [HR. al-Bukhary]

[diringkas dengan perubahan dari Shahih fiqh sunnah]

Wallahu a'lam.

✏ Ustadz Askar Wardhana, Lc حفظه الله تعالى