Wanita Dari Pernikahan Mut'ah Tidak Menyandang Status Istri


5 tahun lalu oleh Radio Suara Al-Iman / 0 komentar

Diantara jaring yang digunakan syi'ah untuk menjerat orang-orang awam -khususnya para pemuda- agar masuk kedalam agama mereka adalah ajaran nikah mut'ah. Tidak hanya mendapatkan "kenikmatan", para pelaku nikah mut'ah juga diiming-imingi ganjaran serta keutamaan yang tidak didapati pada pernikahan resmi.

Ahlussunnah wal jamaah telah menetapkan hukum haram pada nikah mut'ah berdasarkan dalil dari hadits yang shohih diantaranya:

عَنْ مُحّمَّد بنِ عَلي أََنَّ عَليِاًّ رضى الله عنه قاَلَ لِابْنِ عَبَّاسٍ رضى الله عنهما : إِنَّ النَِّي صلى الله عليه وسلم نَهَى عَنِ الْمُتْعَة ِوَ عِنْ لُحُوْمِ الْأَهْليِة ِزَمَنَ خَيْبَرَ

Dari Muhammad bin Ali (yang dikenal dengan sebutan Muhammad bin Hanafiah), bahwa ayahnya Ali (bin Abu Thalib) berkata kepada Ibnu Abbas Radhiyalahu 'anhuma : “Sesungguhnya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang mut'ah dan daging keledai pada masa Khaibar”. - HR Muslim, 9/161, (1407) -

Dan sebagai konsekuensi atas keharaman nikah mut'ah, maka nikah tersebut merupakan nikah yang batil serta wanita yang dinikahi secara mut'ah tidak menyandang gelar istri berdasarkan sebab berikut:

1. Nikah secara mut'ah jauh dari tujuan pernikahan syar'i berupa adanya cinta dan ketenangan antara sepasang suami istri, Allah telah menjelaskan hal ini dalam surat ar rum ayat 21. 

2. Dalam ajaran agama syi'ah dijelaskan bahwa wanita yang dinikahi secara mut'ah tidak mewarisi harta pasangannya dan juga tidak diwarisi hartanya meskipun dia seorang muslimah. Karena seandainya wanita tersebut adalah istri yang sah tentunya akan mewarisi dan diwarisi hartanya sebagaimana yang ditentukan dalam hukum Islam.

3. Dalam pernikahan mut'ah seorang wanita boleh menentukan syarat berupa tidak digauli di daerah depannya yang artinya pasangannya tidak boleh mensetubuhinya. Sementara istri yang sah secara syari'at tidak boleh memberi syarat seperti ini dan syarat seperti ini adalah bathil karena bertentangan dengan ayat al quran surat al Baqarah ayat 223.

4. Masa iddah dari wanita yang dinikahi secara mut'ah berbeda dengan iddahnya wanita yang dinikahi secara syar'i. Salah satu referensi syi'ah menyebutkan bahwa iddah wanita yang dinikah mut'ah hanya empat puluh lima hari ( mukhtasor al bashoir 85  & al wasail 14/376 ).

Tentunya ini menyelisihi apa yang Allah syariatkan dan tetapkan, dan sungguh Allah telah menjelaskan hukum iddah wanita di al Qur'an dengan penjelasan yang tegas dan jelas.

Demikian uraian singkat mengenai status wanita yang dinikahi secara mut'ah. Yang perlu dipahami bahwa perbedaan antara syi'ah dan ahlussunnah tidak hanya terletak pada masalah cabang semata, namun perbedaan antara keduanya juga pada masalah aqidah dan keimanan. Maka sangat mustahil jika Syi'ah dikategorikan sebagai bagian dari Islam

[Diringkas dari kitab
Majmu' mallafaat as syaikh Muhammad Malullah fii raddi 'ala as syi'ah al Imamiyah 5/98-99]

✏ Akhukum fillah: Nur Cholis, S.Pd.I -Semoga Allah mengampuni dosa-dosanya-

di Perpustakaan STAI ALI BIN ABI THALIB Surabaya